Forum Wahabi

Debat Mengenai Islam, Aliran Islam, Penghancur Muslim, Musuh Kaum Muslimin, Mengenal Islam yang Sesungguhnya (Ahlus Sunnah Wal Jama'ah)


You are not connected. Please login or register

Abul Jauzaa dan Pembelaannya Terhadap Kedustaan Ustadz Firanda

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down  Message [Halaman 1 dari 1]

Admin

avatar
Admin
Abul Jauzaa dan Pembelaannya Terhadap Kedustaan Ustadz Firanda ini bersumber dari blog Ummatipress.com
Blog Ummatipress adalah blog ahlus sunnah wal jama'ah yang selalu exis memaparkan kesesatan-kesetan faham wahabi,dan saya sangat tertari untuk memosting ulang disini,karena menurut saya ini adalah referensi yang sangat bagus,buat saya sendiri maupun buat kaum muslimin lainnya.
Abul Jauzaa dan Pembelaannya Terhadap Kedustaan Ustadz Firanda
oleh: Ahmad Syahid
Abul Jauzaa dalam blognya beliau menulis :
Tulisan kali ini akan sedikit membahas tanggapan seorang mukhaalif atas artikel yang ditulis Ustadz Firanda.
Sayang sekali, harapan saya mendapatkan faedah dari tulisan mukhaalif tersebut sia-sia karena apa yang ditulisnya hanyalah daur ulang perkataan ngawur kawan-kawannya terdahulu, yang ia kemas dengan bungkus baru. But,…the content remains the same. Nothing’s new

tanggapan ummatipress:
Sampah sekalipun ketika didaur ulang dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, sayang Abul Jauzaa tidak dapat mengambil faidah dari tulisan yang konon menurutnya adalah daur ulang dari perkataan ngawur, tanpa mampu menunjukkan perkataan siapa yang didaur ulang? Lalu dimana letak ngawurnya ? Atau malah tulisan abul jauza yang daur ulang dan ngawur? Mari kita lihat
Strike to the point, berikut ulasannya :
1. Qutaibah bin Sa’iid
Ustadz Firanda hafidhahullah berkata :
Beliau[1] berkata :
هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله:الرحمن على العرش استوى
“Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)
Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103).

Mukhaalif berkata :
Qutaibah bin Said syeikh Khurosan tidak diragukan ke-imamannya, hanya saja riwayat ini diriwayatkan oleh Abu Bakar an-Naqosy seorang Pemalsu hadist. Llihat Lisanul Mizan juz 5 hal 149, an-Naqosy juga disebutkan dalam al-Kasyf al-Hatsist tentang rawi-rawi yang tertuduh dengan pemalsuan dengan nomer 643, meninggal tahun 351 hijriyah. Sementara Abu Ahmad al-Hakim meninggal tahun 398 hijriyah terpaut waktu 39 tahun, sehingga tidaklah benar jika dia meriwayatkan dari Abul abbas as-siraj, karena as-siraj lahir pada tahun 218 h meninggal tahun 313 , dalam usia 93 tahun , sebagaimana disebutkan dalam Tarikh baghdad juz 1 hal 248. Artinya ketika as-siraj meninggal al-hakim baru berusia 7 tahun bagaimana bisa shahih riwayatnya? Jelas ucapan ini adalah Dusta yang dibuat an-naqosy, terlebih an-naqosy terkenal sebagai pemalsu !

Saya jadi heran kenapa Ustadz Firanda sebagai salah satu tokoh Salafi (wahabi) Indonesia kok ber-Hujah dengan yang dusta alias Palsu? Dengan demikian Status Hujjah ini: gugur!

( Abul-Jauzaa ) berkata :
Atsar Al-Imaam Qutaibah bin Sa’iid rahimahullah tersebut shahih. Yang disebutkan oleh Adz-Dzahabiy merupakan bagian dari perkataan beliau yang panjang mengenai ketetapan-ketetapan ‘aqiidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Atsar tersebut diriwayatkan oleh Abu Ahmad Al-Haakim rahimahullah sebagai berikut (saya ringkas matannya) :
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ الثَّقَفِيَّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا رَجَاءٍ قُتَيْبَةَ بْنَ سَعِيدٍ، قَالَ: ” هَذَا قَوْلُ الأَئِمَّةِ الْمَأْخُوذِ فِي الإِسْلامِ وَالسُّنَّةِ: الرِّضَا بِقَضَاءِ اللَّهِ، ………وَيَعْرِفَ اللَّهَ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا قَالَ: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى
Aku mendengar Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia berkata : Aku mendengar Abu Rajaa’ Qutaibah bin Sa’iid berkata : “Ini adalah perkataan para imam yang diambil dalam Islam dan Sunnah : ‘Ridlaa terhadap ketetapan Allah…… dan mengetahui Allah berada di langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana firman Allah : ‘Ar-Rahmaan di atas ‘Arsy beristiwa’. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah’ (QS. Thaha : 5)…..” [Syi’aar Ashhaabil-Hadiits, hal. 30-34 no. 17, tahqiq : As-Sayyid Shubhiy As-Saamiraa’iy, Daarul-Khulafaa’, Cet. Thn. 1404 H; sanadnya shahih].
Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia adalah Abul-‘Abbaas As-Sarraaj; seorang yang haafidh, tsiqah, lagi mutqin. Lahir tahun 218 H, dan wafat pada usia 95/96/97 tahun [lihat : Zawaaid Rijaal Shahiih Ibni Hibbaan oleh Yahyaa bin ‘Abdillah Asy-Syahriy, hal. 1117-1124 no. 520, desertasi Univ. Ummul-Qurra’].

Catatan penting : Abu Ahmad Al-Haakim, lahir tahun 285 H, dan wafat tahun 378 H. Abul-’Abbaas As-Sarraaj sendiri merupakan syaikh dari Al-Haakim [lihat muqaddimah kitab Syi'aar Ashhaabil-Hadiits, hal. 11]. Oleh karena itu, tidak benar klaim mukhaalif bahwa Abu Ahmad Al-Haakim tidak meriwayatkan dari As-Sarraaj. Apalagi jelas, Al-Haakim menyampaikan riwayat dengan perkataan : ‘sami’tu’ (aku mendengar) dari As-Sarraaj.
Adapun Qutaibah bin Sa’iid, maka telah mencukupi apa yang disebutkan di atas. Beliau lahir tahun 150 H, dan wafat tahun 240 H [At-Taqriib, hal. 799 no. 5557, tahqiq : Abu Asybal Al-Baakistaaniy; Daarul-‘Aashimah].
Konsekuensinya – bagi mukhaalif – perkataan ‘syaikh Khurasaan yang tidak diragukan keimamannya’ ini harus Anda ambil, karena atsar tersebut shahih dan dikatakan oleh orang yang Anda akui keimamannya.

Tanggapan saya ( Ahmad Syahid ) :

1. Bukankah riwayat yang dibawakan Abul Jauzaa ini adalah daur ulang dari riwayat yang telah dibawakan oleh Ustadz Firanda, yang dinukil dari kitab al-uluw ?

2. Abul jauzaa menghukumi riwayat ini shahih, tanpa mampu menunjukkan jika an-naqosy yang tertuduh sebagai pemalsu hadist adalah tsiqoh yang dapat diambil riwayatnya. Abu jauza malah menampilkan bioghrafi rawi yang sama sekali tidak tertuduh, sementara rawi yang tertuduh ”An-Naqosy” tidak dia tampilkan sama sekali.

3. Abul Jauza mengatakan: ”Konsekuensinya – bagi mukhaalif – perkataan ‘Syaikh Khurasaan yang tidak diragukan keimamannya’ ini harus Anda ambil, karena atsar tersebut shahih dan dikatakan oleh orang yang Anda akui keimamannya ”. Inilah perkeliruan dan ngawurnya Abul Jauzaa, sebab jangankan perkataan Ulama, sabda Nabi pun jika dalam sanad riwayatnya terdapat Rawi yang tertuduh, maka hukum dari riwayat perkataan Nabi tadi menjadi dhaif bahkan maudhu’ jika dalam sanadnya terdapat seorang pemalsu seperti An-Naqqosy. Atau Abul Jauza tidak mengerti syarat shahihnya sebuah sanad ?
Daur ulang kedua abul jauzaa:
2. Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy.

Ustadz Firanda hafidhahullah berkata :

Beliau berkata, “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an)….
Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya.” (Aqidatus Salaf wa Ashaabil hadiits hal 44)
Adz Dzahabi berkata, “Syaikhul Islam Ash Shabuni adalah seorang yang faqih, ahli hadits, dan sufi pemberi wejangan. Beliau adalah Syaikhnya kota Naisaburi di zamannya” (Al-’Uluw 2/1317)

Mukhaalif berkata :
Yang shahih dari Ucapan Imam As-shobuni hanya : “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an) …. kata-kata setelah ini (para pemuka dst….) adalah tambahan yang entah Imam aDzahabi dapat dari mana? Silahkan rujuk ”Majmu`ah ar-Rosail al-Muniriyah juz 1 hal 109 risalah as-Shobuni, pernyataan al-imam as-Shobuni ini sama sekali tidak mendukung klaim Ijma’ tentang keberadaan Allah di langit sebagaimana yang di Klaim oleh Ustadz firanda. Inilah yang disebut dengan tafwidh yang juga ditolak oleh Salafi Wahabi. Status Hujjah salah alamat!.

Saya ( Abul-Jauzaa ) berkata :
Nampaknya Anda setengah sadar dalam melakukan bantahan. Kalimat :
وعلماء الأمة وأعيان الأئمة من السلف – رحمه الله – لَم يختلفوا في أن الله على عرشه، وعرشه فوق سمواته،……
“Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya…..”
adalah kalimat asli Ash-Shaabuuniy dalam kitabnya yang berjudul ‘Aqiidatus-Salaf wa Ashhaabil-Hadiits, bukan tambahan Adz-Dzahabiy rahimahullah. Perkataan Adz-Dzahabiy rahimahullah yang dinukil hanyalah berkaitan dengan informasi singkat biografi Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy. Tidakkah Anda membaca scan kitabnya yang dinukil Ustadz Firanda[2] ? Atau,… Anda memang tidak pernah membaca kitab ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits-nya Ash-Shaabuuniy ?.
Saya tambahkan versi cetakan dari lain penerbit dan muhaqqiq :

[Terbitan : Maktabah Al-Imaam Al-Waadi’iy, Cet. 1/1428, tahqiq : Abu ‘Abdirrahmaan ‘Abdul-Majiid Asy-Syamiiriy, hal. 22-23].
Bantahan dan tanggapan mukhaalif itulah yang salah alamat, tidak akurat, dan mengada-ada. Adakah sumber penukilan perkataan seseorang yang lebih valid daripada penukilan kitab tulisannya sendiri ?. Sebagaimana komentar saya sebelumnya, kali ini Anda juga harus membesarkan jiwa Anda menerima kenyataan perkataan Ash-Shaabuuniy yang – mungkin tidak Anda inginkan – bertentangan dengan apa yang Anda yakini saat ini.

Tanggapan saya (ahmad Syahid ) : Andai Abu Jauza membaca utuh tulisan Ash-Shobuni , nisacaya Abu Jauza akan malu sebab sesungguhnya Ash-shobuni adalah seorang Mufawwidh. Tolong Abul Jauzaa perhatikan dengan seksama scan kitab yang dibawakannya sendiri diatas , pada baris ketiga dari bawah , dalam scan tersebut terdapat pernyataan Ash-Shobuni yang sangat jelas menunjukkan jika beliau adalah seorang Mufawwidh

ويمرو نه علي ظا هره ؤيكلو ن علمه الي الله…. الخ ,,,,,,,,,
Pernyataan ash-shobuni ini luput dari perhatian Abu Jauzaa, lihatlah jika Ash-Shobuni mewakilkan imunya ( maknanya) kepada Allah. Inilah Tafwidh yang shorih dari sang Imam, yang sangat berbeda dengan metodologi kaum wahabiyyin di mana mereka (wahabiyyin termasuk Abu Jauzaa ) menolak Tafwidh karena menurut dia dan golongannya, bahwa Tafwidh (menyerahkan makna kepada Allah) adalah penyimpangan, bid’ah dan Ilhad.

Saya (ahmad Syahid) ucapkan: kali ini Anda juga harus membesarkan jiwa Anda menerima kenyataan perkataan Ash-Shaabuuniy yang – mungkin tidak Anda inginkan – bertentangan dengan apa yang Anda yakini saat ini.

Abu jauza berkata :
3. Abu Zur’ah Ar-Raaziy dan Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahumallaah.
Ustadz Firanda hafidhahullah berkata :
Berkata Ibnu Abi Hatim :
“Aku bertanya pada bapakku (Abu Hatim-pent) dan Abu Zur’ah tentang madzhab-madzhab ahlussunnah pada perkara ushuluddin dan ulama di seluruh penjuru negeri yang beliau jumpai serta apa yang beliau berdua yakini tentang hal tersebut? Beliau berdua mengatakan, “Kami dapati seluruh ulama di penjuru negeri baik di hijaz, irak, syam maupun yaman berkeyakinan bahwa:
Iman itu berupa perkataan dan amalan, bertambah dan berkurang…
Allah ‘azza wa jalla di atas ‘arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana Dia telah mensifati diri-Nya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menanyakan bagaimananya, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”(Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah karya Al-Laalikaai 1/198)

Ibnu Abi Haatim juga berkata berkata,
“Aku mendengar bapakku berkata, ciri ahli bid’ah adalah memfitnah ahli atsar, dan ciri orang zindiq adalah mereka menggelari ahlussunnah dengan hasyawiyah dengan maksud untuk membatalkan atsar, ciri jahmiyah adalah mereka menamai ahlussunnah dengan musyabbihah, dan ciri rafidhoh adalah mereka menamai ahlussunnah dengan naasibah.” (selesai)
Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal jama’ah lil imam al Laalikai 1/200-201

Mukhaalif berkata :
Riwayat ini tidak sah dinisbatkan kepada Abu Zur’ah begitu juga jika dinisbatkan kepada Abu hatim. Riwayat ini diriwayatkan dari tiga jalur sebagaimana disebutkan oleh Adz-Dzahzbi dalam Al-Uluw. Dua jalur pertama terdapat dua Rawi yang majhul, keduanya yaitu : Ali ibn Ibrohim meriwayatkan dari Ibn Jami’ , rawi majhul yang satunya Al-hasan bin Muhammad bin Hubaisy Al Muqri tidak ada bioghrafi yang jelas tentangnya dan tidak ada seorangpun Ahli jarh wa ta’dil yang men-tsiqoh-kannya dan dia adalah Majhul. Sebagaimana riwayatnya terdapat dalam sarh Sunnah Al-Lalikai juz 1 hal 176 , jalur ketiga atsar ini diriwayatkan oleh Ibn Murdik jarak kematiannya dengan Abu Hatim 60 tahun sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Baghdad juz 12 hal 30.

Seperti diketahui secara luas oleh ahli bahwa Abu Zur’ah dan Abu Hatim tidak dikenal berbicara dalam masalah seperti ini sebagaimana keduanya juga dikenal tidak mempunyai karya tulis dalam Bab Aqidah persis seperti teman keduanya yaitu Imam Ahmad Ibn Hambal yang juga mengatakan: “Tidak ada yang melewati jembatan Baghdad orang yang lebih Hafidz dari Abu Zur’ah, beliau adalah termasuk salah satu Wali Abdal yang dengannya Bumi terjaga.”

Saya Ahmad Syahid katakan:

Andai pernyataan sepert itu Muncul dari golongan Asy’ariyah atau Sufiyah Pasti kaum wahabiyyin akan menuduh Kafir, Musyrik, dan Ahli Bid’ah!

Status Hujjah gugur, karena rawi-rawinya Majhul.
Saya (Abul-Jauzaa’) berkata :
Katanya, riwayat perkataan dua imam tersebut lemah (dla’iif) dengan sebab adanya para perawi majhuul. Mari kita lihat sanad riwayat yang dibawakan oleh Al-Imaam Al-Laalikaa’iy rahimahullah :
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُظَفَّرِ الْمُقْرِئُ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَبَشٍ الْمُقْرِئُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي حَاتِمٍ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبِي وَأَبَا زُرْعَةَ عَنْ مَذَاهِبِ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي أُصُولِ الدِّينِ، وَمَا أَدْرَكَا عَلَيْهِ الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الأَمْصَارِ، وَمَا يَعْتَقِدَانِ مِنْ ذَلِكَ، فَقَالا: أَدْرَكْنَا الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الأَمْصَارِ حِجَازًا وَعِرَاقًا وَشَامًا وَيَمَنًا فَكَانَ مِنْ مَذْهَبِهِمُ:……
Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Al-Mudhaffar Al-Muqriy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Muhammad bin Habsy Al-Muqriy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim, ia berkata : ”Aku pernah bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah tentang madzhab Ahlus-Sunnah dalam ushuuluddiin (pokok-pokok agama) dan apa yang mereka temui dari para ulama di seluruh pelosok negeri dan yang mereka berdua yakini tentang hal itu, maka mereka berdua berkata : ”Kami telah bertemu dengan para ulama di seluruh pelosok negeri, baik di Hijaz, ’Iraq, Mesir, Syaam, dan Yaman, maka yang termasuk madzhab mereka adalah : …….. (kemudian beliau menyebut macam-macam ’aqiidah, sebagaimana telah dituliskan Ustadz Firanda di atas) [Syarh Ushuulil-I’tiqaad, 1/176].

Keterangan perawi :
a. Muhammad bin Al-Mudhaffar bin ’Aliy bin Harb, Abu Bakr Al-Muqri’ Ad-Diinawariy; seorang syaikh yang shaalih, mempunyai keutamaan, lagi shaduuq. Wafat 415 H [Taariikh Baghdaad, 4/430 no. 1624, tahqiq : Dr. Basyaar ’Awwaad Ma’ruuf; Daarul-Gharb, Cet. 1/1422 H].
b. Al-Husain bin Muhammad bin Habsy, Abu ’Aliy Ad-Diinawariy Al-Muqri’; seorang yang tsiqah lagi ma’muun [lihat : Taariikh Islaamiy oleh Adz-Dzahabiy, 26/538-539, tahqiq : Dr. ’Umar bin ’Abdis-Salaam At-Tadmuriy; Daarul-Kitaab Al-’Arabiy, Cet. 1/1409 H].
c. Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim; ia adalah anak dari Abu Haatim Ar-Raaziy, seorang imam yang tidak perlu ditanyakan lagi.
Kesimpulan : Sanad riwayat ini shahih. Tidak ada rawi majhuul sebagaimana klaim mukhaalif.

Konsekuensinya, Anda (mukhaalif) juga harus menerima dan membuang jauh-jauh perkataan Anda di atas. Apapun dalihnya. Abu Zur’ah dan Abu Haatim adalah imam yang terpercaya menurut Anda.
Itulah perkataan empat orang ulama yang disepakati keimamannya antara ’Wahabiy’ dan mukhaalif. Sengaja saya hanya batasi bahasannya untuk empat imam saja. Saya tidak membahas tuduhan ngawur mukhaalif terhadap Ibnu Qutaibah, Ibnu Khuzaimah[3], Ad-Daarimiy, dan Abu ’Umar Ath-Thalamankiy rahimahumullah sebagai mujassim. Begitu juga tuduhan ngawur lainnya terhadap Ibnu Baththah rahimahullah sebagai pemalsu hadits. Begitu juga ulasan ngawur-nya terhadap aqwaal para imam. Mungkin bisa dilakukan lain waktu, lain orang, bahkan – mungkin – oleh Ustadz Firanda sendiri.[4]
Akhirnya,… sesuatu yang tidak bisa diraih semuanya, tidaklah ditinggalkan semuanya. Semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat bagi saya dan rekan-rekan.

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abul-jauzaa’ – sardonoharjo, ngaglik, sleman, yk – next, job from boss must be done tonite].

Tanggapan saya ( ahmad syahid ) :

Ttiga orang rawi majhul yang saya maksud adalah :

1. ali bin Ibrahim ,

2. al-hasan bin muhammad bin hubaisy al-muqri ,

3 . ibn murdik .

Sangat disayangkan biografi yang didatangkan oleh Abu Jauza adalah :

1. Muhammad bin Al-Mudhaffar bin ’Aliy bin Harb, Abu Bakr Al-Muqri’ Ad-Diinawariy;

2. Al-Husain bin Muhammad bin Habsy, Abu ’Aliy Ad-Diinawariy Al-Muqri,

3. Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim.

Sangat tidak nyambung, ( yang saya sebut majhul yang mana ? Yang dibawakan Abul Jauzaa yang mana ? ) upaya Abul Jauzaa hanyalah pemaksaan kehendak yang tidak akan tercapai. Sebab Syeikh kontradiktif pun ( Al-Albani ) mengakui dalam mukhtasor ala-uluw halaman 205, jika dalam sanad- sanad ini ( riwayat dari abu hatim dan abu zur’ah) ada beberapa orang yang tidak dia ketahui alias majhul, kecuali jika Abul Jauzaa merasa lebih hebat dari syaikhnya (Al-Albani) yang kontradiktif itu.
Catatan abul jauzaa :

[1] Maksudnya, Qutaibah bin Sa’iid rahimahullah.
[2] Kitab yang beliau nukil adalah terbitan Daarul-Minhaaj, Cet. 1/1423 H, dengan tahqiq : Abul-Yamiin Al-Manshuuriy.
[3] Telah ada artikel yang menyebutkan biografi Ibnu Khuzaimah rahimahullah : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/09/biografi-ibnu-khuzaimah.html
[4] Sebenarnya, Ustadz Firanda lah yang berhak menjawab apa yang dituliskan dan disebarkan mukhaalif tersebut. Dan saya yakin, tidaklah terlampau sukar bagi beliau untuk menjelaskan kekeliruan argumentasi susunan mukhaalif tersebut.
Namun, ada perkataan mukhaalif tersebut yang benar tentang atsar Al-Auza’iy rahimahullah, ia adalah atsar lemah (dilemahkan oleh muhaqqiq kitab Al-Asmaa’ wash-Shifaat : ‘Abdullah Al-Haasyidiy, 2/304 dengan sebab Muhammad bin Katsiir). Namun harus juga dikatakan, apa yang dijelaskan Ustadz Firanda dalam artikelnya sudah lebih dari cukup bagi orang yang fair dan bisa berpikir jernih, tanpa dikotori nafsu ’asal bantah’ sebagaimana dilakukan mukhaalif.

Tanggapan saya (Ahmad Syahid) :

1. Riwayat dari al-auza’i bukanlah atsar.

2. Riwayat qoul al-auza’i adalah Madhu’ bukan hanya dhaif.

3. Entah siapa yang lebih layak menyandang: ”Orang yang fair dan bisa berpikir jernih, tanpa dikotori nafsu ’ASAL BANTAH’ sebagaimana dituduhkan Abu Jauzaa.

Demikian tanggapan atas catatan Abul Jauzaa.
Komentar yang menarik:
Gunawan says:
October 22, 2011 at 1:47 am

Sudah di jawab oleh Ust. Abul Jauza, ustadz, silahkan di komentari:

(Kolom komentar)

[1. Qutaibah bin Sa’iid]

Pak Ust. Ahmad Syahid mengkritik riwayat jalur An-Naqosiy, sedangkan Ust. Abul Jauzaa menggunakan jalur Abu Ahmad Al-Hakim yang menurut beliau SHAHIH.

Ada komentar pak Ustadz?, mengenai jalur riwayat yang digunakan Ust. Abul Jauza

[2. Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy]

Ust. Ahmad mempersoalkan nukilan Adz-Dzhahabi, Ust. Abul Jauza jelaskan bahwa itu ada dalam Kitab ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits (Ash-Shobuni), apakah Ust. Ahmad bisa mengeceknya?

Untuk masalah Tafwidh, sepertinya ada perbedaan…Tafwidh versi Ust. Abul Jauza adalah Tafwidh Kaifiyat sedangkan versi Ust. Ahmad adalah Tafwidh Ma’na (CMIIW), saya usul masalah Tafwidh ini dibahas berikutnya saja.

[3. Abu Zur’ah Ar-Raaziy dan Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahumallaah]

Ust. Ahmad menganggap perawi dalam riwayat ini adalah MAJHUL, apakah Ust. Ahmad sudah mengecek Kitab Syarh Ushuulil-I’tiqaad seperti yang dijelaskan Ust. Abul Jauza?

Tolong dijelaskan perawinya

[4. Al-Auza'iy]

Ust. Ahmad menganggap riwayat Al-Awza’i PALSU tanpa memberikan penjelasan mengenai para perawi nya, sedangkan Ust. Abul Jauza memberikan nukilan penilaian terhadap para perawi dan menurut beliau Dha’if/kalaupun Sangat Dha’if pun TIDAK HARUS PALSU.

Silahkan Ust. Ahmad Syahid jelaskan para perawi Riwayat Al-Awza’i tersebut

Semoga Allah tambahkan kebaikan kepada Umat Nabi yang senantiasa jujur dan senantiasa merasa takut berdusta karena diperhatikan Allah…Amin.
Aryati Kartika says:
October 22, 2011 at 6:10 am

Pak Gunawan ini bagaimaa kok asal COPAS aja seh? Justru Postingan di atas itu jawaban buat yg antum COPAS, makanya biasakan baca dulu postingan baru komentar biar nyambung. Duh Pak Gunawan, Pak Gunawan…. kenapa rata-rata para Wahabiyyin itu kelakuannya seperti antum, Asala COPAS aja n buat komentar. Mungkin karena hati yg keras membatu sehingga baca postingan selain Wahabisme ogah, kalau sudah begini bagaimana mau dapat hidayah?

Obatilah hati yg keras dg banyak baca istighfar dan banyak2 baca Sholawat Nabi Saw, insyaallah hati jadi lembut dan terbuka n jujur.

Sekali lagi ana kasih tahu ya Pak Gunawan, yg antum COPAS dari blog Abul Jauza’ itu justru jawabannya ada dalam postingan di atas. Bacalah bagaimaa Abul Jauza’ itu ternyata juga tidak nyambung …. Mungkin karena TELMI atau dikuasai nafsu ASAL BANTAH sehingga bantahannya tidak nyambung. Atau mungkin juga karena punya hati yg keras membatu sehingga tercermin dalam tulisannya yg asal membantah saja dan sangat kuat kesan sengaja membohongi orang-orang awam pengikutnya. Semoga semuanya dapat hidayah seandainya hatinya tidak sekeras batu gunung Uhud, amin….
Catatan dari saya:
benar apa yang dikatakan Aryati Kartika
kaum wahabi itu memang kalau debat berbelit belit dan tidak mau membaca postingan para penulis kaum muslim aswaja,jadi bagi yang mau komentar disini lebih baik jangan berbelit belit dan muter muter,karena hal itu hanya lebih menjelaskan bahwa kaum wahabi selalu ngeles dan muter muter.
keadaan dan tingkah laku kalian sudah difaham dan sudah sangat terkenal,jadi tidak usah menambah buruk citra kalian dengan komentar yang tidak nyambung dan tidak fokus.

Lihat profil user http://wahabi.indonesianforum.net

Admin

avatar
Admin
Untuk komentar yang tidak perlu lebih baik tidak usah nyampah disini.
sumber artikel di atas adalah blog Ummatipress.com
http://ummatipress.com/2011/10/21/abul-jauzaa-dan-pembelaannya-terhadap-kedustaan-ustadz-firanda/

Lihat profil user http://wahabi.indonesianforum.net

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 1]

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik